:strip_icc():format(jpeg)/liputan6-media-production/medias/2246958/original/073315400_1528718583-Pengisian-BBM-di-Tol-Fungsional1.jpg)
"Kalau pakai Premium, ruang bakar lebih kotor dan akselerasi lebih lambat. Hal ini bertolak belakang dengan BBM oktan 92. Bahkan, penggunaan BBM RON tinggi tersebut, ternyata juga lebih irit. Beberapa anggota sudah pernah menghitung," kata Budi.
Dari anggota TeRuCi sendiri, ada yang mudik ke Sumatera dan Jawa Timur atau Jawa Tengah. Bahkan, ada pula yang melakukan touring ke Bali, dengan perkiraan jarak tempuh sekitar 2.000 Km pulang pergi.
"Teman-teman yang ke Bali pun seluruhnya pakai Pertamax dan merasakan sendiri pengaruhnya terhadap performa kendaraan yang baik," tuturnya.
Senada TeRuCi, seluruh anggota Honda Odyssey Community Indonesia (HOCI), mengaku sama sekali tidak menggunakan Premium.
"Penggunaan BBM RON minimal 92 itu atas anjuran Honda. Kalau dipaksa pakai Premium, mesin bisa rusak," kata mantan Ketua Umum HOCI Gandhi Nugroho.
Pria yang akrab disapa Doel tersebut mengatakan BBM RON tinggi dapat mendukung performa kendaraan dan keawetan mesin.
"Kami semua di HOCI sudah paham mengenai hal itu. Kami sependapat dengan pakar ITB beberapa waktu lalu, bahwa Premium bisa merusak mesin dan bahwa BBM yang sangat dianjurkan adalah yang memiliki oktan minimal 92," ujarnya.
https://www.liputan6.com/otomotif/read/3563482/komunitas-mobil-ogah-pakai-premium-saat-mudik-ini-alasannyaBagikan Berita Ini
0 Response to "Komunitas Mobil Ogah Pakai Premium Saat Mudik, Ini Alasannya"
Post a Comment