Atlet paralayang putra Indonesia, Jafro Megawanto saat mengikuti nomor cross county di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat, Rabu (29/8). Indonesia mendapatkan dua perunggu di nomor croos country beregu putra dan putri. (Merdeka.com/Arie Basuki)
Tim official Jepang, Yoshiki Oka mengatakan, kondisi di Puncak berbeda dan sangat menantang, baik dari cuacanya, dan anginnya. Hal ini membuat mereka kesulitan mendapat kondisi yang bagus.
"Kami menargetkan dua emas di Lintas Alam, tapi kami hanya dapat satu. Tapi kami puas dengan hasil ini. Di sini aku rasa tempat yang baik untuk berlatih," kata Yoshiki.
Tim nasional Nepal datang dengan penuh percaya diri dapat mengukir sejarah Paralayang di Asian Games yang pertama. Mereka menargetkan emas, dengan penuh keyakinan.
Nepal menurunkan lima pilot putra andalannya, Bimal Adhikari, Bijay Gautama, Sushil Gurung, Bishal Thapa, dan Yukesh Gurung pilot termuda berusia 19 tahun yang jadi idola selama pertandingan.
Tetapi Nepal harus mengakui keunggulan tim nasional Jepang yang meraih emas di Lintas Alam beregu putra, dan puas mengantongi satu perak.
"Nepal tempat yang bagus untuk terbang, dan kami datang ke sini untuk mendapatkan emas, tapi kalah lagi dari Jepang," kata Bimal Adhikari.
Kondisi cuaca yang tidak bisa diprediksi membuat pilot Nepal kesulitan. Walau mereka semua unggul di Lintas Alam.
"Kondisi alam yang membuat kami sulit mewujudkan target emas, kurang dapat diprediksi untuk terbang, kami akan mencoba lagi di kompetisi berikutnya," kata Bimal.
Di tengah kesulitan mewujudkan target emas, tim Nepal mengaku puas hanya membawa satu perak di nomor Lintas Alam beregu putra.
Bagi Bimal, kehadiran Paralayang di Asian Games adalah sejarah baru, dan mereka sangat terkesan dengan keramahan penyelenggara dan para relawan maupun warga sekitar.
"Dan sangat mengejutkan tim Indonesia cukup dikenal, juga sangat ramah," kata Bimal.
Si cantik da Gyeom Lee pilot tangguh asal Korea Selatan ini juga menemukan pengalaman sama sulitnya dengan pilot putra saat harus menundukkan cuaca di Puncak.
Baginya terbang di Puncak sangat berat tantangannya, terlalu banyak awan, kadang panas, lalu tiba-tiba mendung, sehingga perlu perjuangan untuk mendapatkan Thermal.?
"Kami kesulitan untuk terbang terlalu tinggi," katanya.
Ini bukan yang pertama Lee berkompetisi di Indonesia, kejuaraan seperti world cup series, dan Asian Beach Games juga pernah diikutinya, Batu, Bali dan Puncak.
"Indonesia sangat indah, sangat baik, dan keren," kata Lee.
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Kesan Atlet Paralayang Asian Games 2018 Tampil di Gunung Mas Puncak"
Post a Comment