:strip_icc():format(jpeg)/liputan6-media-production/medias/2048716/original/027285500_1522659364-Ukir_Akar_Ala_Joni__.jpg)
Liputan6.com, Cirebon - Kerajinan tangan dari bahan limbah kayu belakangan banyak dimanfaatkan untuk membuat suatu karya. Bahkan, tidak sedikit kerajinan tangan dari limbah kayu memiliki nilai jual yang baik.
Namun demikian, tidak semua pengrajin memanfaatkan kayu sebagai bahan membuat karya. Seperti yang dilakukan Joni Sarmija warga Desa Tuk, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon.
Sejak tahun 1997, Joni beralih profesi menjadi pengukir berbahan limbah kayu di Cirebon. Joni memanfaatkan akar pohon untuk dijadikan sebuah karya yang memiliki nilai jual.
"Kalau menurut saya kayu itu tidak ada yang berbeda sama-sama kuat," ujar Joni, Senin (4/2/2018).
Joni menjelaskan, akar pohon menjadi bahan utama karena harga yang lebih murah dibandingkan limbah kayu. Selain itu, akar pohon mudah dicari, bahkan dia sering mencari akar pohon sendiri untuk diukir menjadi sebuah karya.
Dalam ukirannya, Joni dominan membuat desain bertema penguasa alam di bumi baik darat, air maupun udara. Seperti di harimau dikenal sebagai raja hutan, ukiran naga yang dikenal sebagai raja air, dan Elang raja udara.
"Masing-masing diambil karena hewan yang menguasai alam karena melewati masa kejayaan yang tinggi," tutur dia.
Dalam membuat ukiran dari akar pohon, Joni tidak hanya cenderung memanfaatkan pohon jati saja. Joni bersama rekannya itu bisa membuat ukiran dari berbagai macam bahan pohon yang ada di alam.
"Kayu jati kan karena namanya sudah terkenal saja jadi mempengaruhi harga padahal menurut saya kayu itu sama saja dan saya sering pakai akar pohon mahoni, mangga hasilnya juga tidak kalah bagus," ujar dia.
http://www.liputan6.com/regional/read/3421841/ukiran-akar-pohon-cirebon-berharga-jutaan-diekspor-sampai-kanadaBagikan Berita Ini
0 Response to "Ukiran Akar Pohon Cirebon Berharga Jutaan, Diekspor Sampai Kanada"
Post a Comment